Pentingnya
Pendidikan politik
Bagi Pemilih
Pemula
Menengok dari hiruk pikuk berbagai
persoalan di tanah jawara ini, saya merasa tertarik untuk menganalisis
kesadaran politik masyarakat banten khususnya bagi para pemilih pemula. Alasan
saya ingin mengambil analisis terhadap pemilih pemula ini yaitu, potensi suara
yang patut dipertimbangkan oleh partai politik sebanyak 337.968 atau 4,50% bagi
pemilih pemula di daerah banten[1],
tentu saja pemilih pemula tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali menggunakan hak
pilihnya dalam kesempatan memilih pemimpin baik di daerah,provinsi, ataupun
ditingkat nasional. Pemilih pemula bisa dari kalangan remaja SMA, mahasiswa ataupun pekerja muda yang berada
pada usia 17-20 tahun. Siswa
atau remaja pada umumnya memiliki suatu sistem sosial yang seolah-olah
menggambarkan bahwa mereka mempunyai “dunia sendiri”. Dalam sistem remaja ini
terdapat kebudayaan yang antara lain mempunyai nilai-nilai, norma-norma. Sikap
serta bahasa tersendiri yang berbeda dari orang dewasa. Dengan demikian remaja
pada umumnya mempunyai persamaan dalam pola tingkah laku, sikap dan nilai,
dimana pola tingkah laku kolektif ini dapat berbeda dalam beberapa hal dengan
orang dewasa (Prijono, 1987).[2]
Menurut saya terdapat beberapa
faktor kurangnya kesadaran politik pemilih pemula, diantaranya
1. Melihat dari pola perilaku remaja pun biasanya lebih santai, bebas, dan
lebih cenderung kepada hal hal yang informal yang oleh karena itu semua hal
yang kurang menyenangkan dihindari.
2. Kemudian para pemilih pemula terkadang
cenderung mengikuti keputusan dari kedua orang tuanya dalam memilih pemimpin
(di mobilisasi).
3. Pengaruh popularitas terhadap pilihan pemilih
pemula.
Berkenaan dengan kapasitas kebiasaan remaja tersebut, setidaknya dapat
dijadikan gambaran penting upaya melihat peta demokrasi dan kesadaran politik
kalangan remaja di lingkungan persekolahan maupun kampus sebagai bagian pemilih
pemula dalam pilkada. Kemudian
menurut hasil survey saya pada beberapa rekan mahasiswa dikampus UNTIRTA,
mereka kian tidak mau tahu persoalan politik tersebut, mirisnya salah satu dari
mereka mengatakan bahwa “siapapun pemimpinnya banten akan tetap terus seperti
ini” ujar fauzul mahasiswa FISIP semester 3.
Bisa dibayangkan bagaimana jika para pemuda ataupun para pemilih pemula
mengabaikan hak pilihnya maka yang terjadi banten akan tetap dikuasai oleh para
pemimpin yang selalu mencari kepentingan.
Dalam upaya meminimalisir sikap
apatis pemilih pemula tersebut Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) banten
menggelar sosialisasi Goes to
School serentak di tiga kabupaten/kota di daerah Banten. Yang diawali dengan sosialisasi pada siswa/siswi SMAN 1 ciruas di
ruang Aula SMAN I Ciruas, Senin 10 Oktober 2016 lalu. Alasan KPUD Banten konsen
dalam upaya memberikan pemahaman ke pelajar menengah atas, menurut Agus
supriyatna (ketua KPUD) lantaran segmen pemilih pemula menjadi salah satu sebab
minimnya angka partisipasi pada Pilkada serentak tahun 2015 lalu.
“Salah satunya itu,
dengan rendahnya partisipasi dan hasil penelitian kita yang rendah itu adalah
pemilih pemula sehingga kita perlu datang ke sekolah-sekolah ini untuk memberikan
penyadaran,” jelasnya
Sedangkan Menurut Bambang, ada
tiga tingkat materi yang perlu ditanamkan dalam kurikulum pendidikan berkaitan
dengan sosialisasi pemilu melalui kurikulum pendidikan. Ketiga materi tersebut
adalah penanaman hakikat pemilu yang benar sehingga memunculkan motif yang kuat
bagi pemilih pemula untuk mengikuti pemilu, pemahaman mengenai sistem pemilu,
dan pemahaman tentang posisi tawar politik. (Pemahaman perilaku politik
(Political Behavior) yaitu perilaku politik dapat dinyatakan sebagai keseluruan
tingkah laku aktor poltik dan warga negara yang telah saling memiliki hubungan
antara pemerintah dan masyarakat, antara lembaga-lembaga pemerintah, dan antara
kelompok masyarakat dalam rangka proses pembuatan, pelaksanaan, dan penegakan
keputusan politik.[3]
. Dari
pernyataan diatas pentingnya pendidikan
politik bagi para pemilu pemula saya kaitkan dari segi pendekatan behavioral
karena untuk mengetahui mengapa seoramg individu melakukan sikap apatis ataupun
acuh tak acuh perlu dilihat dari segi perilaku ataupun motif yang
melatarbelakanginya.
Komentar
Posting Komentar