Langsung ke konten utama

Remahan Tugas Sospol

Pentingnya Pendidikan politik 
Bagi Pemilih Pemula
Siti Kholisoh Ahyani IP'15

Menengok dari hiruk pikuk berbagai persoalan di tanah jawara ini, saya merasa tertarik untuk menganalisis kesadaran politik masyarakat banten khususnya bagi para pemilih pemula. Alasan saya ingin mengambil analisis terhadap pemilih pemula ini yaitu, potensi suara yang patut dipertimbangkan oleh partai politik sebanyak 337.968 atau 4,50% bagi pemilih pemula di daerah banten[1], tentu saja pemilih pemula tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya dalam kesempatan memilih pemimpin baik di daerah,provinsi, ataupun ditingkat nasional. Pemilih pemula bisa dari kalangan remaja SMA,  mahasiswa ataupun pekerja muda yang berada pada usia 17-20 tahun. Siswa atau remaja pada umumnya memiliki suatu sistem sosial yang seolah-olah menggambarkan bahwa mereka mempunyai “dunia sendiri”. Dalam sistem remaja ini terdapat kebudayaan yang antara lain mempunyai nilai-nilai, norma-norma. Sikap serta bahasa tersendiri yang berbeda dari orang dewasa. Dengan demikian remaja pada umumnya mempunyai persamaan dalam pola tingkah laku, sikap dan nilai, dimana pola tingkah laku kolektif ini dapat berbeda dalam beberapa hal dengan orang dewasa (Prijono, 1987).[2]
Menurut saya terdapat beberapa faktor kurangnya kesadaran politik pemilih pemula, diantaranya  
1.      Melihat dari pola perilaku  remaja pun biasanya lebih santai, bebas, dan lebih cenderung kepada hal hal yang informal yang oleh karena itu semua hal yang kurang menyenangkan dihindari.
2.      Kemudian para pemilih pemula terkadang cenderung mengikuti keputusan dari kedua orang tuanya dalam memilih pemimpin (di mobilisasi).
3.      Pengaruh popularitas terhadap pilihan pemilih pemula.
Berkenaan dengan kapasitas kebiasaan remaja tersebut, setidaknya dapat dijadikan gambaran penting upaya melihat peta demokrasi dan kesadaran politik kalangan remaja di lingkungan persekolahan maupun kampus sebagai bagian pemilih pemula dalam pilkada. Kemudian menurut hasil survey saya pada beberapa rekan mahasiswa dikampus UNTIRTA, mereka kian tidak mau tahu persoalan politik tersebut, mirisnya salah satu dari mereka mengatakan bahwa “siapapun pemimpinnya banten akan tetap terus seperti ini” ujar fauzul mahasiswa FISIP semester 3.  Bisa dibayangkan bagaimana jika para pemuda ataupun para pemilih pemula mengabaikan hak pilihnya maka yang terjadi banten akan tetap dikuasai oleh para pemimpin yang selalu mencari kepentingan.
Dalam upaya meminimalisir sikap apatis pemilih pemula tersebut Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) banten menggelar sosialisasi Goes to School serentak di tiga kabupaten/kota di daerah Banten. Yang diawali dengan sosialisasi pada siswa/siswi SMAN 1 ciruas di ruang Aula SMAN I Ciruas, Senin 10 Oktober 2016 lalu. Alasan KPUD Banten konsen dalam upaya memberikan pemahaman ke pelajar menengah atas, menurut Agus supriyatna (ketua KPUD) lantaran segmen pemilih pemula menjadi salah satu sebab minimnya angka partisipasi pada Pilkada serentak tahun 2015 lalu.
“Salah satunya itu, dengan rendahnya partisipasi dan hasil penelitian kita yang rendah itu adalah pemilih pemula sehingga kita perlu datang ke sekolah-sekolah ini untuk memberikan penyadaran,” jelasnya
Sedangkan Menurut Bambang, ada tiga tingkat materi yang perlu ditanamkan dalam kurikulum pendidikan berkaitan dengan sosialisasi pemilu melalui kurikulum pendidikan. Ketiga materi tersebut adalah penanaman hakikat pemilu yang benar sehingga memunculkan motif yang kuat bagi pemilih pemula untuk mengikuti pemilu, pemahaman mengenai sistem pemilu, dan pemahaman tentang posisi tawar politik. (Pemahaman perilaku politik (Political Behavior) yaitu perilaku politik dapat dinyatakan sebagai keseluruan tingkah laku aktor poltik dan warga negara yang telah saling memiliki hubungan antara pemerintah dan masyarakat, antara lembaga-lembaga pemerintah, dan antara kelompok masyarakat dalam rangka proses pembuatan, pelaksanaan, dan penegakan keputusan politik.[3]
             .  Dari pernyataan diatas  pentingnya pendidikan politik bagi para pemilu pemula saya kaitkan dari segi pendekatan behavioral karena untuk mengetahui mengapa seoramg individu melakukan sikap apatis ataupun acuh tak acuh perlu dilihat dari segi perilaku ataupun motif yang melatarbelakanginya.
























[1] Didih m sudi, komisioner kpu banten.
[2] Prijono Onny (1987). Kebudayaan Remaja dan Sub-Kebudayaan Delinkuen. CSIS, Jakarta
[3] Bambang selaku keynote speaker dalam acara seminar “menggagas partisipasi aktif guru dalam peta politik Indonesia”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUKU HARIAN AYAH

Tangerang, 22 April 2018 Hari ini adwi nemuin buku harian abi, sederhana memang hanya sisa buku pelajaran yang sudah tak terpakai yang memang sudah terlihat usang. Kulihat bait baitnya sungguh membuat aku menangis.   Bagaimana tidak? Hanya sebuah cerita Durian yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal-hal kecil, namun sangat membekas dihati. Seingatku kala itu aku yang biasa pulang sekolah langsung ke kantor abi dan menunggu abi disana, dengan niat ingin pulang bersama. Pukul 23.00 tepatnya aku dan abi pulang, namun seketika aku bingung tiba-tiba abi memberhentikan motornya tepat ditukang durian yang memajangkan durian murah sekitar 10-20rban, tanpa pikir panjang abi langsung memilah dan memilihnya. Sedap memang wanginya buah itu, lekas abi membungkusnya 6 buah durian dengan uang yang ia dapatkan dari mengajar ngaji sekitar Rp 200k seingatku, dengan kecepatan yang sangat maksimal aku rasa abi ingin segera tiba dirumah untuk makan buah itu bersama keluarga. Namun keti...

AKU UNTUK BANTEN

Dahulu jika mendengar kata “Banten” yang terlintas dalam benak saya adalah sebuah konotasi Negatif yang mencirikan daerah ketertinggalan,Korupsi dsb.  padahal  jika merujuk pada demografi, saya pun masih termaksud kedalam bagian darinya, Namun kala itu saya yang angkuh selalu enggan untuk mengakuinya, hingga pada akhirnya titik balik pada kehidupan saya memaksa saya untuk menempuh kuliah di serang, dan dipertemukan dengan berbagai macam orang dengan berbagai pemikiran yang mengangumkan.  Dengan segala keindahan Banten yang memukau,  meningkatkan kecintaan saya terhadap banten. akan tetapi tidak hanya kelebihan pula yang saya temukan, Anak-anak putus sekolah,Kriminalisasi,Angka kemiskinanpun masih banyak saya temui hanya saja mampu untuk saya minimalisir konotasi negative tersebut. Atas dasar hal tersebut saya belajar dengan firman Allah SWT yaitu “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal...