Tangerang, 22 April 2018
Hari ini adwi nemuin buku harian
abi, sederhana memang hanya sisa buku pelajaran yang sudah tak terpakai yang
memang sudah terlihat usang. Kulihat bait baitnya sungguh membuat aku
menangis. Bagaimana tidak? Hanya sebuah
cerita Durian yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal-hal kecil, namun
sangat membekas dihati.
Seingatku kala itu aku yang biasa
pulang sekolah langsung ke kantor abi dan menunggu abi disana, dengan niat
ingin pulang bersama. Pukul 23.00 tepatnya aku dan abi pulang, namun seketika
aku bingung tiba-tiba abi memberhentikan motornya tepat ditukang durian yang
memajangkan durian murah sekitar 10-20rban, tanpa pikir panjang abi langsung
memilah dan memilihnya. Sedap memang wanginya buah itu, lekas abi membungkusnya
6 buah durian dengan uang yang ia dapatkan dari mengajar ngaji sekitar Rp 200k
seingatku, dengan kecepatan yang sangat maksimal aku rasa abi ingin segera tiba
dirumah untuk makan buah itu bersama keluarga. Namun ketika durian itu dibuka
hanya satu yang layak untuk dimakan, sisanya asam dan dingin. Semua raut
ekspresi anak-anaknya berbeda-beda, ada yang langsung masuk kamar, ada yang
menutup muka dengan bantal, ada yang bahkan menitikan air mata. Dan ternyata
tanpa terasa abi pun menangis ingin rasanya beliau sumpah serapahi tukang
durian tersebut. Namun abi mencoba untuk menahannya, hari rayapun tiba, abi
bercerita tentang keinginannya memberikan durian kepada anak-anaknya.
Diceritakannya keinginannya itu, uwa ato yang sekarang sudah lebih dahulu
menghadap Nya, membelikan buah itu. Abi dengan senyum sungringahnya melihat
kebahagiaan kami.
Abi selalu apik menutupi segala
cerita-ceritanya, begitupula dengan umi. Jujur saja aku begitu terinspirasi
oleh mereka. Aku ingin suatu hari nanti dapat dicintai oleh seseorang, seperti
abi mencintai putrinya.
Abi aku sadar sangat berat
bebanmu, kau memikul tanggung jawab mendidik kita semua, ke-Enam putra putrimu.
Kau sadar bentuk materi hasil kerja kerasmu tidak seberapa besarnya. Tapi kau
selalu mampu melengkapinya dengan kasih sayangmu.
Abi, hanni tau abi sangat
mencintai keluarga ini, kau tau beratnya kehidupan akan sirna ketika kita
berbagi tawa. Segala duka laramu kau ceritakan pada kami, seakan kau ingin kami
tahu perjuanganmu, Aku sepakat dengan itu bagiku anak-anakku nanti perlu tau
bagaimana perjuangan orangtua dalam segala hal agar kelak kami tidak mudah
menyepelekan. Beberapa bulan lalu kutemukan buku usang itu, oh ternyata disini
tempat kau mengadu selain kepada Allah, semacam buku yang bercerita tentang
aktivitasmu, tentang harapanmu pada ku, dan keluarga ini. Terlihat jelas disana
bagaimana kau ingin membelikan emas untuk istrimu yang tak kunjung teraminkan,
terlihat jelas harapanmu kepada kami putri putrimu untuk bisa menjadi muslimah
sejati, dengan kutemukannya surat permohonan hadiah gamis dan kerudung pada
salah satu partai yang memiliki program syariah, kubaca surat itu bersamaan
dengan tangis sebagai bahan renungan, katamu kau tak mampu membelikan pakaian
seorang muslimah untuk putri-putrimu, sehingga kau tak kuasa meminta kami untuk
menggunakan pakaian yang syar’i. Abi, maafkan kami yang belum mampu istiqomah berbusana
syar’I namun insyaAllah kami akan mencoba untuk menaati ketentuan-Nya. Abi, jauh
direlung hati ini kau perlu tau we love you J
terimakasih sudah banyak mengajarkan kehidupan J

Komentar
Posting Komentar