Langsung ke konten utama

AKU UNTUK BANTEN


Dahulu jika mendengar kata “Banten” yang terlintas dalam benak saya adalah sebuah konotasi Negatif yang mencirikan daerah ketertinggalan,Korupsi dsb.  padahal  jika merujuk pada demografi, saya pun masih termaksud kedalam bagian darinya, Namun kala itu saya yang angkuh selalu enggan untuk mengakuinya, hingga pada akhirnya titik balik pada kehidupan saya memaksa saya untuk menempuh kuliah di serang, dan dipertemukan dengan berbagai macam orang dengan berbagai pemikiran yang mengangumkan.
 Dengan segala keindahan Banten yang memukau,  meningkatkan kecintaan saya terhadap banten. akan tetapi tidak hanya kelebihan pula yang saya temukan, Anak-anak putus sekolah,Kriminalisasi,Angka kemiskinanpun masih banyak saya temui hanya saja mampu untuk saya minimalisir konotasi negative tersebut. Atas dasar hal tersebut saya belajar dengan firman Allah SWT yaitu “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : Ayat 216).

Sejenak saya berfikir, saya tidak bisa terus menghujat, saya harus terlibat!.

Alhamdulillah melalui kegiatan Dolan bareng 3 & 4, Mari mengajar 5 & 6, dan Banten Pintar 2017  dan 2018, serta  berbagai kegiatan social masyarakat yang saya ikuti membuat saya belajar berbagai hal yang akhirnya sangat memotivasi saya untuk terus terlibat, “Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum selain kaum itu sendiri yang mengubahnya?” berangkat dari firman Allah tersebut, menjadikan diri saya haus untuk berkontribusi dalam berbagai kegiatan-kegiatan menuju peradaban Banten kedepannya. Menurut saya Segala bentuk persepi negative yang ditujukan terhadap banten dijadikan sebagai beban moral anak Banten untuk dikaji, diteliti, serta di Eksekusi untuk pembangunan Banten yang berkelanjutan.
Pembangunan menurut saya tidak melulu tentang Infrastruktur, akan tetapi pemerintah seringkali mengedepankan infrastruktur sebagai sebuah pembangunan yang jelas terlihat oleh mata dan jelas terlihat sebagai bentuk keberhasilan kepemimpinannya. ketimbang Pembangunan yang bersifat jangka panjang atau dalam hal ini yaitu Pembangunan sumber daya manusia. Banten yang baru menginjak usia remaja sangat membutuhkan Bimbingan para Founding fathers serta pemuda-pemuda yang yang berkualitas untuk membersamai melakukan gerakan   perubahan yang solutif untuk Banten dikemudian hari.

Menurut Piet Hizbullah Khaidir dalam bukunya Nalar Kemanusiaan dan Nalar perubahan social. Dimana terdapat 3 perubahan social yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan individunya, langkah paling mudah adalah segala bentuk yang bersifat ceremonial seperti donasi dan sebagainya yang tidak memerlukan banyak waktu dan energi. Kedua, gerakan pencerdasan berkelanjutan. Dan perubahan terakhir adalah Revolusi, mengapa dikatakan sebagai perubahan terakhir, karena jika memang masih banyak cara dan upaya yang masih dapat dilakukan untuk menghindari revolusi dini.

Menurut saya, sebagaian dari kita tidak diperkenankan untuk merendahkan berbagai macam upaya yang dapat individu lakukan dalam perubahan social. Jika memang si A hanya mampu membuat sebuah gerakan dalam bentuk donasi sangat dipersilahkan, mungkin ia tidak memiliki banyak waktu untuk terlibat. Kemudian jika si B hanya mampu membuat gerakan pencerdasan berkelanjutan sangat dipersilahkan untuk melakukannya, mungkin si B memiliki banyak waktu dan tenaga, dan yang terakhir melalui Revolusi, mungkin si C hanya mampu memberikan aksi perubahan melalui revolusi dan demonstrsi dikarenakan beliau hanya mampu dalam hal tersebut.  Toh pada hakikatnya kita semua hanya ingin sebuah perubahan social menuju kesejahteraan masyarakat yang lebih baik lagi.

 Berkaca pada sebuah pendapat gerakan perubahan yang ada pada buku tersebut menurut saya gerakan Banten Pintar adalah sebuah gerakan yang solutif  yang mampu meminimalisir angka anak putus sekolah dan meningkatkan Sumber Daya Manusia yang ada di Provinsi Banten, yang diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam perubahan Banten kearah yang positif. Banten pintar membuat saya belajar tumbuh dan berkembang. membuat saya belajar arti kebermanfaat an dengan kesederhanaan.  

Semangat Menebar manfaat Banten Pintar semoga terus mengagumkan J

-Hanni Sunardi-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remahan Tugas Sospol

Pentingnya Pendidikan politik  Bagi Pemilih Pemula Siti Kholisoh Ahyani IP'15 Menengok dari hiruk pikuk berbagai persoalan di tanah jawara ini, saya merasa tertarik untuk menganalisis kesadaran politik masyarakat banten khususnya bagi para pemilih pemula. Alasan saya ingin mengambil analisis terhadap pemilih pemula ini yaitu, potensi suara yang patut dipertimbangkan oleh partai politik s ebanyak 337.968 atau 4,50 % bagi pemilih pemula di daerah banten [1] , tentu saja pemilih pemula tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya dalam kesempatan memilih pemimpin baik di daerah,provinsi, ataupun ditingkat nasional. Pemilih pemula bisa dari kalangan remaja SMA,  mahasiswa ataupun pekerja muda yang berada pada usia 17-20 tahun. Siswa atau remaja pada umumnya memiliki suatu sistem sosial yang seolah-olah menggambarkan bahwa mereka mempunyai “dunia sendiri”. Dalam sistem remaja ini terdapat kebudayaan yang ...

BUKU HARIAN AYAH

Tangerang, 22 April 2018 Hari ini adwi nemuin buku harian abi, sederhana memang hanya sisa buku pelajaran yang sudah tak terpakai yang memang sudah terlihat usang. Kulihat bait baitnya sungguh membuat aku menangis.   Bagaimana tidak? Hanya sebuah cerita Durian yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal-hal kecil, namun sangat membekas dihati. Seingatku kala itu aku yang biasa pulang sekolah langsung ke kantor abi dan menunggu abi disana, dengan niat ingin pulang bersama. Pukul 23.00 tepatnya aku dan abi pulang, namun seketika aku bingung tiba-tiba abi memberhentikan motornya tepat ditukang durian yang memajangkan durian murah sekitar 10-20rban, tanpa pikir panjang abi langsung memilah dan memilihnya. Sedap memang wanginya buah itu, lekas abi membungkusnya 6 buah durian dengan uang yang ia dapatkan dari mengajar ngaji sekitar Rp 200k seingatku, dengan kecepatan yang sangat maksimal aku rasa abi ingin segera tiba dirumah untuk makan buah itu bersama keluarga. Namun keti...