Langsung ke konten utama

BOSISME


Nama                           : Siti Kholisoh Ahyani

NIM                            : 6670150066

Prodi/Kelas                 : Ilmu Pemerintahan/IVA UNTIRTA

Dosen Pengampu        : Abdul Hamid Ph.D

Orang Kuat Lokal di Dunia Ketiga

Pada tulisan saya kali ini akan memaparkan tentang Bosisme atau biasa kita menyebutnya dengan “penguasa lokal” atau “orang kuat lokal” yang terdapat di wilayah asia tenggara khususnya di negara Indonesia, Thailand, dan Filipina. Seperti halnya dalam ulasan yang dipaparkan miqdal, miqdal mencoba menerangkan mengapa orang kuat lokal yang berhasil melakukan kontrol seringkali efektif menangkap sebagian negara dunia ketiga, “mereka berhasil menempatkan diri atau menaruh anggota keluarga mereka pada sejumlah jabatan penting demi menjamin alokasi sumber-sumber daya yang berjalan sesuai dengan aturan mereka sendiri ketimbang menurut pada aturan-aturan yang dilontarkan dalam retorika resmi, pernyataan kebijakan, dan peraturan perundang-undangan yang dibuat di ibukota atau dikeluarkan oleh pelaksana peraturan yang kuat” (Miqdal 1998: 256)

A.    Filipina

Budaya politik lokal yang bersifat patron klien di Filipina sudah ada sejak perang dunia kedua, yang dimana para akademisi pun sudah melazimkan hubungan patron klien yang terjadi di negara tersebut karena terdapat kegigihan elite pemilik tanah dalam melanggengkan usahanya. Dalam perpolitikan di Filipina kecurangan dalam Pemilu seperti pembelian suara, atau kekerasan politik sudah meluas sejak lama, sehingga di Filipina angka Pemilihan umum ulang sangat tinggi. Semua itu dikarenakan sudah mengakarnya para bos lokal di Filipina, yang sebenanrya tak mencerminkan kekuatan hubungan patron klien ataupun kekuasaan dan sistem oligarki tanah, tetapi lebih mewakili keganjilan struktur kelembagaan negara, subordinasi yang khusunya amat menyekat aparatur negara dengan pejabat yang ada disetiap daerahnyayang dipilih pada jaman penjajahan Amerika (1940-1941) sangat berbeda dibanding birokratisasi dan penyekatan negara-negara kolonial dikawasan lain, dan bergabung dengan permulaan yang mungkin dengan longgar diistilahkan “akumulasi primitif” yang malah memfasilitasi munculnya bosisme di filipina pada abad XX.

B.     Thailand

 Bosisme yang terjadi di Thailand diistilahkan sebagai akumulasi primitif yang dimaknai sebagai tahap perkembangan kapitalis dengan golongan penduduk yang signifikan yang telah kehilangan kontrol langsung terhadap alat-alat produksi dan sumber-sumber langsung mata pencaharian. Dalam kondisinya banyak pemilih yang mengalami tekanan klientilistik, koersiif, dan Moneter maupun keterpuasan jabatan-jabatan negara dan sumber-sumber negara bagi akumulasi modal serta kontrol terhadap komando puncak perekonomian lokal. Thailand sangat kental kaitannya dengan bos-bos lokal di asia tenggara, karena pada waktu itu dibawah pemerintahan militer dan politik birokrasi di thailand hingga tahun 1970-an, banyak sekali hambatan-hambatan kelembagaan atas cikal bakal manifestasi bosisme lokal yang cukup signifikan. Terlebih lagi thailand menggunakan kuasa Chao Pao atau bapak pelindung sebagai pemegang kekuasaan terbesar karena mereka berhasil memberikan pialang suara dalam pemilihan umum. Chao Pao juga menjadi terkenal karena pera mereka dalam kontrol terhadap gurita negara ditingkat lokal.

C.    Indonesia

Sedangkan di Indonesia berbanding terbalik dengan dengan pola Bosisme yang terdapat di Thailand, dan Filipina. Yang dimana Bosisme di Indonesia lebih berkembang lebih luas dan lebih mengakar yang sangat terlihat jelas pada era kekuasaan Soeharto (1996-1998), karena Pada implementasinya organisasi kekuasaan negara pada masa itu sangat terbatas. Sedangkan di Indonesia itu sendiri berbeda dari bosisme Filipina dan thailand, dimana yang menjadi bosisme nya itu sendiri merupakan mafia  jaringan dan marga/dinasti di beberapa daerah muncul mafia dan jaringan lokal dibawah kepemimpinan bangsawan lokal serta para pewakil pemuka agama dan etnis yang berperan penting dalam mobilisasi kekerasan pada setiap konflik komunal di seluruh nusantara. Secara keseluruhan jelas bahwa beberapa tahun terakhir menyaksikan tumbuh dan dan berkembang kekuasaan mafia jaringan dan marga lokal di seluruh negeri yang berjalan berdampingan dengan pergeseran kepemilihan umum yang kompetitif dan devolusi besar besaran kekuasaan negara kedewan DPRD juga berlimpahnya sesuatu yang berbeda dari pola bos-bos lokal di negara Filipina dan Thailand yang menyebar luas di Indonesia. Kekuasaan lokal di Indonesia tampak nya tidak di monopoli oleh “orang kuat” individual atau “Dinasti”. Alih alih kekuasaan ekonomi serta politik pada tingkat kabupaten Kota Madya dan Provinsi di Indonesia terlihatnya di hubungkan dengan sesuatu yang di artikan longgar, agak samar-samar, dan kelompok yang gampang berubah serta adanya jaringan pengusaha politikus dan pejabat. Kesimpulannya kekuasaan tersebar dan terbagi-bagi daripada terpusat ditangan orang kuat perorangan. Namun Demikian, tanggapan alternatif lebih sesuai dengan analisis Filipina dan thailand yang disodorkan oleh analisis mendekati landasan struktur kelembagaan mikro yang kini makin dilengkapi dengan dengan pemilihan umum  dan desentralisasi negara Indonesia. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remahan Tugas Sospol

Pentingnya Pendidikan politik  Bagi Pemilih Pemula Siti Kholisoh Ahyani IP'15 Menengok dari hiruk pikuk berbagai persoalan di tanah jawara ini, saya merasa tertarik untuk menganalisis kesadaran politik masyarakat banten khususnya bagi para pemilih pemula. Alasan saya ingin mengambil analisis terhadap pemilih pemula ini yaitu, potensi suara yang patut dipertimbangkan oleh partai politik s ebanyak 337.968 atau 4,50 % bagi pemilih pemula di daerah banten [1] , tentu saja pemilih pemula tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya dalam kesempatan memilih pemimpin baik di daerah,provinsi, ataupun ditingkat nasional. Pemilih pemula bisa dari kalangan remaja SMA,  mahasiswa ataupun pekerja muda yang berada pada usia 17-20 tahun. Siswa atau remaja pada umumnya memiliki suatu sistem sosial yang seolah-olah menggambarkan bahwa mereka mempunyai “dunia sendiri”. Dalam sistem remaja ini terdapat kebudayaan yang ...

BUKU HARIAN AYAH

Tangerang, 22 April 2018 Hari ini adwi nemuin buku harian abi, sederhana memang hanya sisa buku pelajaran yang sudah tak terpakai yang memang sudah terlihat usang. Kulihat bait baitnya sungguh membuat aku menangis.   Bagaimana tidak? Hanya sebuah cerita Durian yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal-hal kecil, namun sangat membekas dihati. Seingatku kala itu aku yang biasa pulang sekolah langsung ke kantor abi dan menunggu abi disana, dengan niat ingin pulang bersama. Pukul 23.00 tepatnya aku dan abi pulang, namun seketika aku bingung tiba-tiba abi memberhentikan motornya tepat ditukang durian yang memajangkan durian murah sekitar 10-20rban, tanpa pikir panjang abi langsung memilah dan memilihnya. Sedap memang wanginya buah itu, lekas abi membungkusnya 6 buah durian dengan uang yang ia dapatkan dari mengajar ngaji sekitar Rp 200k seingatku, dengan kecepatan yang sangat maksimal aku rasa abi ingin segera tiba dirumah untuk makan buah itu bersama keluarga. Namun keti...

AKU UNTUK BANTEN

Dahulu jika mendengar kata “Banten” yang terlintas dalam benak saya adalah sebuah konotasi Negatif yang mencirikan daerah ketertinggalan,Korupsi dsb.  padahal  jika merujuk pada demografi, saya pun masih termaksud kedalam bagian darinya, Namun kala itu saya yang angkuh selalu enggan untuk mengakuinya, hingga pada akhirnya titik balik pada kehidupan saya memaksa saya untuk menempuh kuliah di serang, dan dipertemukan dengan berbagai macam orang dengan berbagai pemikiran yang mengangumkan.  Dengan segala keindahan Banten yang memukau,  meningkatkan kecintaan saya terhadap banten. akan tetapi tidak hanya kelebihan pula yang saya temukan, Anak-anak putus sekolah,Kriminalisasi,Angka kemiskinanpun masih banyak saya temui hanya saja mampu untuk saya minimalisir konotasi negative tersebut. Atas dasar hal tersebut saya belajar dengan firman Allah SWT yaitu “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal...